Jawabannya memang belum jelas. Namun, hal ini tidak berarti bahwa flu atau demam berkepanjangan yang diderita ibu ketika hamil tidak membawa pengaruh terhadap kondisi autis anak. Masalahnya, sebuah studi yang diterbitkan jurnal Pediatrics baru-baru ini menunjukkan data yang cukup mengkhawatirkan. Penelitian dilaksanakan dengan mengambil sampel 97.000 anak yang dilahirkan di Denmark pada 1997 hingga 2003 dengan mengaitkan variabel kondisi kesehatan ibu pada saat melahirkan termasuk serangan infeksi maupun konsumsi antibiotik. Hasil penelitian cukup mengejutkan para peneliti sendiri bahwa penyakit infeksi umum, seperti pada saluran pernafasan dan atau saluran kencing, ternyata tidak membawa pengaruh pada kondisi autis anak. Akan tetapi, para ibu yang menderita flu justru memiliki resiko dua kali lipat anaknya menderita autis sebelum usia anak mereka mencapai 3 tahunan.

https://www.istockphoto.com/foto/8-tahun-anak-laki-laki-dengan-autisme-gm1037615396-277756681



Resiko autis yang lebih besar, hingga tiga kali lipat bahkan, justru lebih terpajankan pada anak yang ibunya menderita demam berkepanjangan (selama seminggu atau lebih). Beberapa studi atau penelitian lanjutan juga menguatkan hasil tersebut namun sayangnya para peneliti belum bisa memastikan sebab yang jelas dari peristiwa ini. Yang bisa dijelaskan adalah ketika para wanita hamil menderita sakit berkepanjangan, seperti demam atau flu, secara otomatis tubuh akan menghasilkan antibodi tertentu yang bekerja melawan penyakit tersebut. Dan atas kondisi inilah mekanisme pertahanan tubuh ibu berbalik mempengaruhi perkembangan otak bayi atas alasan dan atau mekanisme yang belum bisa dijelaskan secara pasti oleh para pakar. Penelitian yang baru saja dilakukan tersebut juga senada dengan riset Profesor Piciotto, pakar bidang kesehatan masyarakat dari MIND University, Amerika Serikat, yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Pakar kesehatan ini mengungkap bahwa ibu penderita demam semasa hamil beresiko dua kali lebih besar melahirkan anak autis.

Akan tetapi, kabar yang cukup melegakan hati juga datang dari pakar tersebut. Mereka menyebut bahwa hasil ini baru sebatas hipotesis, atau dugaan ilmiah. Seperti diketahui, kondisi autisme atau kondisi yang menyebabkan anak sulit berinteraksi dengan lingkungan, masih merupakan satu dari misteri besar dunia kedokteran dan pengobatan modern yang belum bisa diungkap secara jelas. Realita bahwa banyak ibu yang juga menderita demam atau flu namun melahirkan anak normal juga perlu diperhitungkan sehingga kabar tersebut tidak seharusnya menjadi momok bagi para ibu hamil. Kesimpulannya, yang perlu diperhatikan adalah menjaga kesehatan ibu selama hamil supaya tidak jatuh sakit. Besar maupun kecil, bibit penyakit apapun bisa sangat berpotensi mempengaruhi kondisi kehamilan dan utamanya kesehatan jabang bayi. Terlebih lagi, bukankah memang lebih baik mencegah daripada mengobati? Karenanya, daripada bunda repot berpikir kalau sakit obatnya apa, bukankah akan lebih baik jika repot berpikir bagaimana supaya tidak sakit?